Langsung ke konten utama

Postingan

Sebuah Kisah Rumit

  Gue bingung memulainya darimana. Ini cerita yang sulit diungkapkan, diutarakan atau diyakinkan. Tapi kita pertama kali berkenalan saat 2018, lebih tepatnya saat gue kelas 12 Ips. Keadaan kelas masih sama, hanya pindah ke bangunan yang lebih baru, lebih deket sama gerbang parkiran lebih tepatnya. Desas desus pengacakan kelas bakal terulang, berhembus beberapa hari sebelumnya, dan walaupun Alhamdulillahnya akhirnya rencana itupun batal, jadi gue tetep bisa sekelas sama orang orang yang udah gue anggap keluarga kedua gue. Walaupun gue naik kelas, kelakuan superjail dan iseng gue nggak berubah. Walaupun gue orang yang sering kejebak di moment moment akward, tetep aja kalau gue udah di deket Aziz (sahabat yang udah gue anggep kakak sendiri) gue jadi orang yang paling absurd dan paling gak bisa berhenti ketawa. Aziz emang seperti memegang kendali hidup gue, kek kalau sama dia gue bisa lupa apapun cuma seneng seneng aja intinya. Dan karena dialah seolah gue mendapat kendali atas semua...

Komunisme Sebagai Hantu Demokrasi

  Kenapa orang indonesia sangat mudah di provokasi tentang "pki"  Partai Komunis Indonesia, Partai yang telah diharamkan namanya di percaturan politik Indonesia,  apalagi kalau bukan peristiwa paling tak beradab malam 30 september sampai pagi di awal bulan oktober tahun 1965, sebuah peristiwa dimana 6 Jendral AD dan Seorang Perwira dibunuh dan dikubur dalam sebuah sumur tua nan sempit, di daerah lubang buaya. Apa kita perlu panjang lebar menjelaskan bagaimana kejinya pki dimasa pra kemerdekaan sampai orde lama? Saya pikir tidak usah, kita tahu bahwa pki sangat tak punya otak, dalam menghargai sebuah nyawa demi mencapai dengan apa yang mereka sebut sebagai sebuah "revolusi." Madiun 1948, dan g30spki/gestok sudah cukup mewakili mindset kita, tentang bagaimana brutalnya pki sebagai sebuah organisasi politik. Tapi pki kan sudah mati sejak orde lama (tentu saja menjelang orde baru)? Apa masih ada di jaman modern tepatnya di era reformasi ini? Hmmm rasanya mustahil. sanga...

Keluh Kesah Persahabatan

  Senja mulai menyampuri panasnya kota Rembang di hari itu, sebuah kota yang memang terletak di pesisir utara pulau jawa. Dan di hari  yang panas itu, gue baru saja tiba di salah satu parkiran caffe ternama di kota Rembang. Tap tap tap... Suara sepatu gue beradu dengan paving block parkiran 'ORSO' sebuah caffe yang terletak di salah satu sudut di kota Rembang, caffe ini memang baru di resmikan beberapa minggu lalu, jadi masih bisa dilihat, beberapa rangkaian bunga ucapan selamat masih bertebaran di halaman caffe ini. Untuk sejenak, gue tengok lagi motor gue, memastikan ia berdiri dengan benar serta tidak terlalu miring, dan setelah gue yakin, akhirnya, gue memantapkan diri untuk membuka pintu caffe, yang sudah berdecit saling menyambut pengunjung yang datang dan pergi. "Mbak pesen cappuccinonya satu ya." Kata gue ramah kepada pelayan, yang masih berdiri anggun dibalik meja tempat pengunjung memesan. Ia mengangguk pelan, "Iya mas, itu aja atau ada yang mau dit...

Anonim

Luluh, sebuah lagu dari band Samsons terputar ketika gue sedang mengetik tulisan ini. Lagu ini cukup memorable buat gue, ya disamping MVnya agak creepy, tapi musik sama liriknya bagus sih. Dan alasan lain kenapa lagu ini memorable adalah karena lagu ini lagu yang paling sering gue puter saat di batam dulu, ketika gue yang untuk pertama kalinya bener bener baru terdampar di dunia yang biasa disebut "dunia yang sebenarnya." Apakah sekarang udah baik? Eehmmm enggak juga, walaupun gue mulai terbiasa tapi gue nggak bisa bilang semua lebih baik, selalu ada plus minus dari setiap kejadian, betul?  Mei 2019, gue lupa tanggal berapa saat seremonial perpisahan masa Sma gue diselenggarakan, tapi yang jelas hal itu yang paling gue nantikan, karena dua hal. Ya karena dua hal, pertama karena untuk pertama kalinya gue akan bebas ngelakuin apa aja, mau manjangin rambut bebas gak ada guru yang bakal negur, mau pake pakaian apa aja bebas nggak ada yang ngatur, paling kalau kita jadi budak korp...

Surat Untuk Kamu, Wanitaku

Assalamualaikum wr.wb. Hai, Apa kabar? Semoga kamu baik baik saja.  Gak banyak sih yang mau saya tulis, bahkan saya sedikit susah untuk memulai semua kata kata saya, seperti semua kata kata saya lenyap tersesap rasa kagum pada kamu, wanita yang akan selalu saya temui di pagi hari saya.  Saya bagian dari semesta, dan juga kamu, fakta itu tak terbantahkan. Saya, kamu dan semesta ini berjalan di dalam genggaman tuhan, termasuk bagaimana cara saya dan kamu bertemu di suatu hari nanti, dan bagaimana cara tuhan yang membuat waktu untuk memisahkan kita secara "sementara" sudah terskenario oleh naskah tulisan tuhan secara sempurna. Jangan berusaha menebak, karena di hari ini, saya belum tahu siapa kamu? Siapakah namamu? Dimanakah kamu sekarang atau mungkinkah kamu adalah orang yang saya kenal sekarang? Saya tak tahu jawabannya karena saya manusia biasa, tapi siapapun kamu saya yakin kalau kamu adalah wanita terbaik yang dikirim tuhan untuk saya. Terimakasih untuk telah mempercayakan ...

Akan selalu begitu

Katamu kau membenci pagi Disaat rekan sejawatmu membius bisanya Kau tetap anggun Kau tetap memagari bibirmu dengan senyum Walaupun kau sedikit memaksanya Katamu kau lemah bak daun kering yang tertiup angin Tapi Keluhmu sangat pelit Tangismu banyak Jelasmu padaku Katamu kau membenci pagi itu Tapi kau selalu kembali Kau selalu hadir  Untuk pura pura semua berjalan sesuai rekam nada Mengalun irama  Memungkas semua tangismu yang tertahan malam lalu Karena kamu memang begitu Dan akan tetap seperti itu Karena kamu, Salah satu singularitas alam semesta Dan hanya pada dirimu Rasa kagumku menempatkan dirinya dengan damai

Kita masih sama

Kita sudah tumbuh terlalu cepat Melewati batas waktu Melewati batas masalah yang mampu kita tanggung Kita sudah terbiasa berlagak baik baik saja Itu kita sekarang Kita yang nyaman untuk menipu diri Kita yang lelah untuk berpikir "Semua akan baik baik saja besok." Diri yang rajin menyembunyikan rapuhnya Tubuh yang rajin mengemban rasa sakitnya Hati yang terlalu bosan mengeluh Itu cerita kita sebenarnya Itu memang kita kita tidak benar benar bertambah kuat Hanya saja bosan untuk menyeka air mata untuk kesekian kalinya.