Ini memang sulit untuk ditulis nampaknya. Terlalu banyak pergulatan batin terjadi,
karena kadang gue merasa gue masih nggak tumbuh menjadi orang dewasa Ketika menulis
ini.
Jika masa lalu bisa diulang Kembali, walaupun itu bayarannya
sangat mahal, apakah kamu akan tetap melakukannya? Saya akan menebak jika
kalian semua akan menjawab iya tanpa pikir Panjang. Saya pun akan berpikir
demikian awalnya. Siapa yang tidak merindukan bangun di pagi hari tanpa harus
merasakan rasa sialan harus bertemu orang-orang seperti mereka lagi, saya akan
lakukan semua hal agar bisa lagi bangun, menatap ke arah jam tidur kamar saya
dan berpikir “Ah sialan, saya lupa mengerjakan pr lagi tadi malam” sebagai sumber
keresahan terbesar hidup saya.
Tidak, saya tidak akan terlalu banyak menceritakan tentang
dirinya terlalu panjang lagi, nampaknya kalian juga sudah sangat jengah dan
bosan mendengar hal itu. Saya sudah
tidak menyukai Perempuan itu sejak setahun
yang lalu. Saya sepenuhnya sadar bahwa saya tak akan bisa membawanya kembali ke
hadapan saya. Ini bukan soal fisik, tapi fakta bahwa kita berdua sudah mati
sejak hari-hari itu sudah tidak bisa dibantah. Bahkan saat mampu berdua untuk
menatap matanya, saya yakin bahwa hati saya sudah terlalu dingin dan mati untuk
mencoba memancing rasa itu kembali lagi. Kita tumbuh diantara kedua arah angin
yang berlawanan, kadang itu berarti bagus ataupun malah sebaliknya. Hati saya
tak akan mampu menerima perempuan lain sebagaimana saya dulu menerima dirinya. Saya
berkeyakinan bahwasannya saya mati sejak hari itu, hari-hari saya tidak
berjalan lagi, tahun berganti tahun hanya imbuhan tidak penting yang kerap kali
mengganjal saya dalam menulis tahun di awal bulan januari. Umur bertambah umur
hanya soal menunggu mati secara fisik. Secara nama, Ando bagi saya sudah mati,
yang ada hanya Yuda, jadi saat saya mampu mencintai Perempuan lagi, maka
Yudalah yang akan merayakan hal itu, Ya, Ando hanya seonggok nama yang mati
membusuk, tertawan belukar di sudut paling gelap alam sanubari saya. Jadi jangan
sebut nama itu lagi.
Saya sering menemui kebuntuan ketika harus berkata. Menurut saya, semua kata yang terucap hanya akan
berujung pada kekecewaan, tak sesuai fakta, semua perkataan yang kadang terasa
indah itu hanya nyanyian tidur, adiktif, tapi membunuh saya pelan-pelan. Diam
adalah hal terbaik untuk banyak alasan bagi saya. Menghadapi fakta yang
mengecewakan lebih terasa hidup ketimbang harus terbuai omong-kosong penghibur
belaka. Saya sudah sangat lelah untuk mempercayai kata-kata indah dari banyak
orang, itu ilusi yang susah diterima ketimbang satu pernyataan yang pahit. Mati
dalam gelap mungkin tidak terasa terlalu buruk ketimbang harus hidup dalam
ketidak nyataan yang terus dibumbui romantisasi positif vibes. Semua orang-orang
itu munafik, bahkan jika saya mampu untuk menghajar mereka sampai mati, maka
akan saya lakukan itu agar mereka tau bahwa semua bualan mereka hanyalah suara
sumbang yang terus menyiksa telinga saya.
Maka lihatlah saya. Dahulu pria bernama ando itu percaya “suatu
saat saya akan jadi manusia yang kaya dan baik hati, dan akan ku nikahi wanita-wanita
Impianku itu.” Si Ando sialan itu pernah percaya hal senaif itu. Karena pada faktanya, ia tidak akan sampai di
tahap itu. Yuda Lahir sebagai pecundang ulung, lari dari kenyataan,
meromantisasi titik awal Dimana keyakinan ando akan terwujud. Lalu, lihatlah
yuda sekarang? Keyakinan-keyakinan yang diyakini si ando bajingan itu dia tertipu, karena sejak awal ia tidak di
titik start yang sama, mereka melaju mulus dengan segala kemudahan mereka
membalik telapak tangan, tapi si ando harus terjun ke jurang dengan segala
darah dan harga diri yang harus dikais, ia masihlah sampah. Kata-kata “Kamu
hebat, bisa berjalan di kakimu sendiri.” Hanya lelucon jenaka belaka, itu
hanyalah lawakan paling menggelitik seumur hidup saya. Kadang saya harus
menanyakan darimana sisi keadilan tuhan, jika mereka selalu menang dan saya
akan selalu kalah? Mereka mempertaruhkan keyakinan mereka dengan jaminan jatuh ke
awan paling lembut, sedangkan saya mempertaruhkan keyakinan saya sepenuhnya
dengan ancaman jatuh kedalam samudera paling gelap yang siap menenggelamkan
saya kapanpun ia mau, maka saya tanyakan lagi dimanakah titik keadilan itu?
Saya masih bersyukur bahwa tuhan masih membiarkan saya
tertawa walaupun itu kadang lebih seperti ejekan terhadap kemalangan yang saya
hadapi. Setidaknya itu mencegah hati saya yang semakin membeku dan mati. Hanya lilin
redup yang masih ia nyalakan yang masih menyinari sudut gelap hati saya, saya
kadang terlalu dilema, apakah ialah yang akan membantu dunia saya mampu terang
lagi walaupun tak akan sama ke level yang lama seperti dulu, atau malah menjadi
lilin mati yang membatu, yang justru akan mengantar saya mewujudkan sumpah
saya, bahwasannya apabila saya gagal untuk membuatnya tetap terang dan hidup di
hati saya, maka akan saya janjikan seluruh dunia bagaimana rasanya hidup tanpa
cinta, bagaimana rasanya penyiksaan, bagaimana rasanya kehampaan, dan akan saya
buat setiap manusia untuk merasakan bahwa kematian lebih baik daripada
kehidupan, dan akan saya pastikan bahwa semua manusia akan merasa menyesal
karena pernah dilahirkan.
Entah akan jadi iblis atau malaikatkah saya suatu hari
nanti, pada akhirnya saya akan katakan pada kalian, bahwasanya tulisan inilah
yang akan mengingatkan kalian semua, bahwasanya saya pernah merasa menjadi manusia
yang punya hati.
Komentar
Posting Komentar