Langsung ke konten utama

Agama dan Logika

 Anda anda semua pasti berfikir bahwa saya akan menyesatkan anda dengan tulisan saya kali ini.  Jika iya, ambil kopi anda dan duduklah bersama saya.

 


 


Dalam semesta yang kompleks ini, hukum sebab menghasilkan akibat adalah hukum mutlak yang paling mutlak dan tidak terbantahkan, karena begitulah ilmu duniawi bekerja. Namun pada faktanya apakah semua sebab akan selalu mendatangkan akibat? Bisa jadi bisa tidak. Keterbatasan ilmu manusia membatasi kita untuk mempelajari jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang belum terpecahkan. Layaknya sebuah misteri, konsep konsep keagamaan adalah konsep konsep yang terkadang susah di terima oleh akal kita sebagai manusia biasa. Namun apakah hal itu berarti membuat argumen "jika agama tidak mampu diterima akal, lalu apakah agama diciptakan untuk mahluk yang tidak berakal?" Justru tidak, konsep-konsep dalam agama acap kali berada di level berbeda dari ilmu keduniawian lainnya, hal ini yang membuat agama terkadang susah untuk ditelaah untuk ukuran logika manusia biasa.


Sederhananya begini, ada akibat ada sebab yang menyertainya terlebih dahulu. Nah jika apabila alam ini diciptakan oleh tuhan, lalu tuhan diciptakan oleh siapa? apakah tuhan merupakan sebuah proses alam? Jika benar maka berarti alam muncul terlebih dahulu? Benar bukan? Jangan sangka anda bisa menjawab paradoks ini, karena saya sendiri tidak punya jawabannya. Saya hanya menunjukan bahwa dalam beberapa saat konsep keagamaan memang susah dicerna logika. Kita yang terbiasa mengetahui ada awal dan ada akhir, akhirnya tak tahu apa ujung dari awal itu sendiri, padahal pada hakikatnya Allah adalah awal dari segala awal, awal dari sebelum kata awal ada, Allah adalah zat yang absolut, berada di level berbeda dengan alam dan kita yang ada sebagai ciptaanya sebagai makhluk biasa. Allah adalah angka 0 dalam sistem bilangan matematika, beliau adalah awal walaupun terkadang perannya tak "senyata" bilangan lainnya, 0 di kali bilangan apapun tetap menghasilkan bilangan 0, dan apabila  bilangan apapun itu dibagi dengan 0 pasti jawabannya tak terbatas, tidak ada, atau bahkan kalkulator anda bisa meledak demi hanya bisa mengetahui hasilnya. Begitulah perumpamaan sifat Allah yang tak terbatas dan tak terjangkau oleh akal manusia, kita laksana kalkulator yang hanya bisa menggeleng geleng ketika ditanya tentang bagaimana agungnya Allah SWT. 


Oleh karena dirinya yang maha agung sebagai awal dari segala awal, Allah menelurkan ilmu dan konsep agama yang berbeda level dalam penalaran manusia, namun beliau dengan senang hati menyederhanakannya melalui kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasulnya, menjadikan kita tahu gambaran kasar dari bagaimana ia bekerja dan bagaimana ia berkuasa, walaupun kita tak mampu menalar sepenuhnya. 


Sosial dan agama adalah dua hal yang berjalan berdampingan. Tanpa agama, kehidupan sosial akan menjadi tak teratur, liar dan tak terkendali. dan sebaliknya, tanpa sosial, agama tak akan bekerja karena sosial sendiri adalah objek dari bagaimana agama bekerja. Dalam ruang sosial yang kompleks dengan segala perbedaanya, agama memberi peran sebagai pembatas dan petunjuk setiap individu dalam bertindak, dan bersikap. oleh karena sosial manusia yang mempunyai banyak kepala sebagai penafsir, dan ketidak mampuan kita menalar semua ajaran agama secara 100% konkret dan tidak multi tafsir, maka rentan terjadi berbagai perbedaan pendapat. Walaupun kalau saja ditinjau dari sisi sudut pandang yang berbeda mungkin bisa saja valid kebenarannya. Perbedaan pendapat adalah sebuah hal lumrah dalam masyarakat, hal ini menandakan bahwa dengan keagungannya tuhan, beliau mampu memberikan kita akal yang cerdas sehingga membuat kita bisa berfikir sampai sejauh ini.


Dalam konsep keagamaan yang rumit ini, Filsafat sebagai induk dari segala ilmu sosial, memberi jembatan atau pendekatan besar bagi kesenjangan Ilmu agama dan akal manusia. Filsafat sebagai ilmu sosial yang kompleks ini menerjemahkan berbagai ajaran agama sampai ke tahap yang bisa dimengerti oleh manusia. Walaupun filsuf-filsuf muslim sendiri masih kalah tenar dengan plato, aristoteles dan lainnya, namun peran peran mereka tak bisa dipungkiri besarnya dalam memberikan filosofis-filosofis agama dalam kehidupan manusia banyak. 

pendekatan agama adalah hal yang unik. agama yang merupakan ilmu pasti, tidak memiliki satu pendekatan yang sama dengan ilmu pasti lainnya. sifat agama yang universal menyangkut pada hubungan sosial dan hubungan dengan sang Khalik. ini berarti agama menuntun kita pada satu konsep keterkaitan sosial dengan sang Khalik. keberadaan agama adalah penengah dan penghubung antara realitas duniawi dengan dunia yang belum kita ketahui pastinya. dari pendekatan yang spesial inilah, muncul beberapa-beberapa pertanyaan yang mengambang pada skala ambiguitas. pertanyaan inilah yang menjadi tolok ukur manusia awam tentang konsep keagamaan, bagaimana agama kerap kali di sangkut pautkan pada proses takhayul yang tidak teruji kebenaranya. padahal, dalam faktanya Allah sendiri telah menunjukan dirinya secara nyata tanpa kita sadari. seperti pernyataan alamiah tentang bumi di QS; Al-Israa (17) :(12) yang menunjukan bahwa Allah sendirilah yang telah mengatur segala rupa bumi sampai akhirnya ilmu-ilmu duniawi bisa memecahkannya. 

saya sempat terpikirkan suatu konsep keagamaan ketika saya menonton ringkasan film Intestelar, film karya Christoper Nolan ini, cukup mind blowing menurut saya, jadi saya anggap sangat wajar ketika film tersebut diganjar dengan berbagai penghargaan. dalam film tersebut, cukup menjelaskan bagaimana realitas kita bekerja. konseptual antara 2 dimensi, 3 dimnsi, sampai dimensi ke 5 adalah sebuah langkah praktis dalam menyelami bagaimana realitas kita bekerja. benar bahwa konsep film ini adalah berbasis dari Ilmiah, namun ada satu pembicaraan menarik ketika sang tokoh utama bertanya pada salah satu rekannya, tepatnya saat mereka berdua terjebak di dunia 5 dimensi, dimana waktu dan realita menjadi tak teratur, satu kalimat di adegan tersebut telah menelisik saya ketika rekan tokoh utama berkata "makhluk dimensi ke 5 lah yang telah menciptakan ruang ini." ini seolah menjelaskan kita bahwa manusia merupakan mahkluk dimensi ketiga, dimana kita tidak bisa memahami dimensi-dimensi diatas kita secara konkret. hal ini sangat bisa disandingkan dengan ilmu agama yang telah saya sampaikan tadi, bahwa agama sendiri merupakan ilmu yang ada dimensi berbeda. karena pada hakikatnya sendiri, kita hanya mampu memahami dimensi yang sama dengan kita, seperti dimensi ketiga tentang bangun ruang, volume, ukuran dan semacamnya, serta dimensi-dimensi dibawahnya yang berupa garis, tinggi, panjang dan sebagainya. namun apakah kita sama sekali tidak mengetahui dimensi diatas kita? tidak, kita mengetahuinya, namun masihlah terbatas kapasitasnya. seperti dimensi ke empat yang diwakili oleh waktu. kita tidak bisa memahami waktu secara pasti karena letak dimensinya yang lebih tinggi dengan kita, namun toh pada faktanya kita tetap tahu kalau waktu itu ada dan bukan hanya dongeng fiksi saja. hal inilah yang bisa kita terapkan terhadap bagaimana kita memahami agama sebagai satu ajaran diatas dimensi kita. sehingga konotasi-konotasi keraguan dari ekssistensi Allah sendiri bisa dihapuskan atau bahkan dilenyapkan.

namun ketidak tahuan dan keterbatasan kita dalam memahami konsep agama bukan berarti membuat kita  harus pesimistis terhadap kemampuan manusia dalam memahami ilmu-ilmu keagamaan. ketidak tahuan kita patutnya mendorong kita pada sikap tertantang untuk mencari tahu kebenaran dan implementasi agama secara benar. bukan berarti pula menuntun pada satu konsep yang menuntun kita untuk berpikir diluar kodrat kita sebagai manusia, yang akhirnya bermuara pada ketersesatan kita dalam memahami ilmu agama.

"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas." (QS. al-Israa' (17): 12).

Baca artikel detiknews, "Bentuk Bumi Bulat atau Datar? Ini Penjelasan dalam Alquran" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-4742496/bentuk-bumi-bulat-atau-datar-ini-penjelasan-dalam-alquran.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas." (QS. al-Israa' (17): 12).

Baca artikel detiknews, "Bentuk Bumi Bulat atau Datar? Ini Penjelasan dalam Alquran" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-4742496/bentuk-bumi-bulat-atau-datar-ini-penjelasan-dalam-alquran.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas." (QS. al-Israa' (17): 12).

Baca artikel detiknews, "Bentuk Bumi Bulat atau Datar? Ini Penjelasan dalam Alquran" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-4742496/bentuk-bumi-bulat-atau-datar-ini-penjelasan-dalam-alquran.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jejak Sejarah Perkeretaapian Kabupaten Rembang

Assalamualaikum wr.wb. Hai, balik lagi sama gue. Lama gue nggak ngeblog, ya harap maklum lah ya :v nggak sibuk kok, paling siduk tidur makan berak doang wkwkwkwk. Oke untuk sekedar informasi, kali ini gue mau bahas soal sejarah. Ya emang gue orangnya suka sejarah jadi maklum kalau gue cerita soal sejarah, daripada ghibah yakan.   Oke sejarah yang gue maksud kali ini adalah soal sejarah jalur mati kereta api di kabupaten Rembang. Sebelumnya perlu kalian ketahui kalau di Kabupaten Rembang dulu pernah terbentang sebuah Jalur kereta yang menghubungkan antara semarang-bojonegoro dan semarang cepu.  Jalur ini berdiri atas prakarsa dari Joana semarang stoomtram maastchapij atau biasa di singkat sjs. Awalnya sjs hanya membangun jalur dari semarang-juwana yang beroprasi di tahun 1884.  (Peta yang menunjukkan rencana penyambungan Jalur kereta api Babat-Merakurak dengan  Jalur kereta api Bojonegoro-Jatirogo).  Setelah sukses dijalur Semarang-Juwana, Sjs me...

Filosofi dan tutorial ngarit yang baik dan benar.

Hai, udah lama gue nggak ngeblog nih, ada yang kangen nggak? Nggak ada? Oh yaudah. Oke tanpa basi-basa lagi, kali ini gue akan share ilmu yang agak agak bermanfaat buat kalian semua, yaitu gue bakal ngeshare tata cara ngarit yang baik dan benar. Oke tanpa bersabda lebih panjang lagi, mari kita mulai, cekidot. Sejarah Ngarit, atau dalam bahasa indonesia kita menyebutnya "mencari pakan ternak di ladang." (Agak panjang emang, jadi, supaya ringkas kita singkat jadi mptdl/ ngarit.) adalah suatu masa dimana kita membabat rumput secara biadab dan membabi buta untuk dijadikan pakan oleh hewan ternak kita misal, Kambing, Sapi, Ayam, T-rex, pteronodon atau semacamnya. Menurut legenda, ngarit sendiri ditemukan oleh seorang pakar biologi bernama hernandes smahantutn. Di kepulauan madagaskar. Saat itu hewan ternak yang ia pelihara mengalami kelaparan, dirinya kebingungan menuruti nafsu makan hewannya tersebut, karena beberapa hari sebelumnya, beliau sudah mencoba memberi nasi padang...

Krisis Suksesi Kesultanan demak. : Politik dan konflik terselubung antara Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus.

 Abad ke 16, di jawa, tepatnya di tanah milik kesultanan demak terjadi pergolakan besar tentang bagaimana kekuasaan demak hendaknya dipindah tangankan. Sepeninggal Pati unus yang tidak memiliki putera mahkota, sunan surowiyoto atau gelar anumertanya sebagai pangeran sedo ing lepen, menghendaki bahwa ialah yang berhak untuk menyandang mandat sebagai sultan demak menggantikan ayahandanya (raden patah) dan kakaknya (pati unus) . Statusnya sebagai anak sulung ke 2 raden patah membuat ia memiliki kepercayaan diri besar bahwa kelak ialah pewaris yang telah dipilih tuhan untuk menggantikan ayahnya. Suatu keyakinan yang pada dasarnya tak diamini oleh para penghuni istana demak kala itu.  Pada dasarnya kalangan sentono istana lebih memilih sultan trenggono sebagai pengganti raden patah. Kecakapannya dalam memimpin dirasa lebih layak untuk memimpin kesultanan demak ketimbang kakak tirinya. Namun bak cerita klasik, semuanya terbentur oleh paugeran dimana raja harusnya anak lelaki ter...